GKJ Wonogiri GKJ Wonogiri
Berita

PERSEKUTUAN DOA MASA PRAPASKAH 1

RENUNGAN

Senin, 23 Maret 2026 6
GKJ Wonogiri

Masihkah Langit Menceritakan Kemuliaan-Nya?

(Mazmur 19:1-15)

Jika memandang langit, apa yang dibayangkan? Dari sudut pandang iman, memandang langit yang luas mendatangkan kekaguman. Dari tingkap-tingkapnya hujan turun ke bumi. Dari awan-awan yang menggumpal tampak pengharapan akan munculnya tanda kehidupan. Cerahnya langit saat tidak berawan memperlihatkan cantiknya semesta ciptaan Tuhan ini. Namun, betapa sedihnya saat melihat langit dipenuhi dengan polutan. Emisi pabrik, asap kendaraan, emisi pesawat terbang, pembakaran sampah dan hutan kerap kali membuat langit tertutup awan kelam. Kelamnya awan bukan karena hendak hujan, melainkan karena adanya sumber-sumber polusi.

Siapa yang membuatnya? Manusia adalah pembuat polusi itu. Ada berbagai aktivitas keseharian yang tanpa kita sadari menyumbangkan polusi udara. Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa kualitas udara di Indonesia tidak sehat. Mungkin saja ada yang berkata: “Ah... bagaimana mungkin menyebut kualitas udara tidak sehat? Aku masih bisa bernafas kok... kalau aku masih bisa bernafas, artinya kan masih bisa hidup”. Memang, saat ini orang masih bisa bernafas dengan bebas. Secara kasat mata polusi udara tidak tampak. Namun berdasarkan prediksi partikular kabut asap dari BMKG ditunjukkan bahwa kualitas udara Indonesia dalam keadaan tidak sehat.

Membandingkan situasi nyata yang demikian dengan bacaan Mazmur 19:1-15, timbul pertanyaan: “Masihkah langit menceritakan kemuliaan Allah”? Saat pemazmur menaikkan nyanyian: langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya (Mzm.19:1) tampaklah suasana apa yang dialaminya saat itu. Kita bisa membayangkan pemazmur memperhatikan langit. Kadang dari sana hujan turun. Ada kalanya cerahnya menyegarkan. Ada kalanya mendung menutupinya. Semua yang tampak itu membuatnya menghayati bagaimana menyatu dengan langit buatan Allah dan bersama memuliakan Allah yang menciptakannya.

Pemazmur menyebutkan bahwa memang langit dan cakrawala tidak memperdengarkan suaranya saat memuliakan Allah. Namun pesan tentang kemuliaan Allah yang dibawanya terpencar ke seluruh dunia (Mzm.19:5). Pemazmur menghayati pesan dari langit dan cakrawala agar tidak lupa pada penciptanya. Pesan tersebut dikuatkan dengan adanya Taurat sebagai firman Tuhan (Mzm.19:8). Semua yang difirmankan oleh Tuhan itu sempurna dan baik adanya. Hidup dalam ketaatan pada firman Allah membuat jiwa menjadi segar, serta menambahkan hikmat bagi orang-orang yang tidak berpengalaman.

Pada Mazmur 19:14, pemazmur memohon pada Tuhan agar beroleh perlindungan dari sikap angkuh. Sikap angkuh merusak kehidupan. Manusia yang hidupnya dikuasai oleh keangkuhan akan menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat kehidupan. Ia lupa pada Tuhan, penciptanya. Keangkuhan juga membuat manusia bisa lupa bahwa Tuhan juga menciptakan ciptaan-ciptaan lainnya. Saat manusia lupa bahwa Tuhan juga mencipta ciptaan lainnya, manusia bertindak semena-mena kepadanya.

Sikap angkuh dan semena-mena terhadap sesama ciptaan Allah harus dihentikan. Ungkapan pemazmur pada Mazmur 19:15 membuat kita tahu bahwa pemazmur menggambarkan Allah seperti Gunung Batu. Katanya: “Kiranya ucapan mulutku dan renungan hatiku berkenan kepada-Mu, ya Tuhan, Gunung Batuku dan Penebusku”. Dengan penggambaran itu, pemazmur ingin mengajak kita supaya berlaku hormat pada semua ciptaan Allah. Masa Prapaskah ini menjadi momen bagi kita untuk mewujudkan pertobatan sejati. Sifat pertobatan bukan egosentris, yaitu pertobatan yang hanya dilakukan bagi diri sendiri. Pertobatan ekologis adalah pertobatan yang mengajak umat Allah kembali pada hakikatnya yang sejati, yaitu sebagai ciptaan Tuhan. Semoga melalui tindakan-tindakan sederhana, sikap hormat pada sesama ciptaan terwujud, sehingga bersama langit dan cakrawala kita memuliakan nama-Nya dengan kesukacitaan dan pengharapan. (wsn).


Sumber Buku: Masa Paskah 2026: “Kebangkitan Kristus Memperbarui Ciptaan - Paskah Ekologis” Hak Cipta © 2025, LPP Sinode GKJ dan GKI SW Jateng