Tuhan Baik, Aku Belajar Baik
(Mazmur 100:1-5)
Apakah Anda percaya kalau Tuhan baik? Apa buktinya? Pasti ada beragam jawaban yang muncul. Pasti ada yang mengatakan pengurbanan Yesus Kristus di atas kayu salib adalah tanda kalau Tuhan baik. Jawaban itu benar. Namun, kalau hidup kita susah. Ekonomi minim. Sakit penyakit melanda kita. Apakah kita juga tetap yakin Tuhan itu baik?
Seperti pertanyaan pertama tadi. Pertanyaan ini juga memiliki banyak jawaban. Ada yang mengatakan Tuhan pasti baik, hanya persoalan terletak pada iman kita. Kalau iman kita kuat maka hidup kita akan penuh berkat. Kalau iman kita teguh maka kesuksesan, kesembuhan, kekayaan akan menjadi bagian hidup kita. Itu sebabnya banyak orang mencari gereja yang mampu terlihat umatnya hidup dengan sukses. Jadi orang gereja dengan harapan, yaitu untuk mendapatkan berkat Tuhan. Apa berkat Tuhannya? Ya itu tadi. Kesuksesan, kesembuhan, kekayaan dan sejenisnya.
Mari kita renungkan, jika memang kita percaya Tuhan baik, mengapa kita masih berharap seperti itu? Kalau memang kita percaya Tuhan baik, kita juga percaya bahwa pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik buat hidup kita. Anda sepakat?
Dalam terang pemahaman ini mari kita perhatikan Mazmur 100. Mazmur 100 adalah mazmur ibadah. Atau mazmur untuk korban syukur. Dalam ayat 2 Pemazmur mengundang kita untuk beribadah dengan sukacita dan dengan sorak-sorai. Bagi Pemazmur ibadah seharusnya adalah ibadah yang membawa sukacita, kegembiraan. Bayangkanlah seperti orang yang hobi memancing akan pergi memancing. Maka hari itu terasa menyenangkan. Dari pagi wajah sukacita terlihat bahagia, siul senandung lagu gembira terdengar. Ini hal pertama, kita seharusnya pergi beribadah dengan sukacita.
Tapi tunggu dulu. Sering dipahami orang sekarang, sukacita dalam ibadah itu perlu dinampakkan. Salah satunya dalam bentuk gerak tubuh dan tepuk tangan. Ini menjadi persoalan. Bukankah di gereja kita umumnya tepuk tangan dan menari tidak terlalu biasa. Ada sih, tidak banyak. Bahkan, kalau pun ada tepuk tangan suara fales, ketukannya gak kompak. Apakah itu berarti kita tidak bisa beribadah dengan sukacita?
Kita simpan pertanyaan ini. Kita coba perhatikan kalau kata “sukacita” dan “sorak-sorai” didahului dengan kalimat “beribadahlah kepada Tuhan…” dan “datanglah ke hadapannya…” Dua kata itu (beribadahlah dan datanglah) dalam bahasa aslinya menunjukkan pemahaman bahwa yang datang adalah orang yang statusnya lebih rendah. Seperti seorang rakyat yang datang menghadap raja. Atau seorang hamba kepada tuannya. Apakah mungkin kita menghadap Presiden Prabowo dengan gaya seorang koboy. Sekalipun kita sahabat Presiden, kita akan menjaga wibawa Presiden. Yang biasanya kita lakukan, menyimpan peristiwa perjumpaan itu, menceritakan kepada orang lain kalau kita berjumpa Presiden, dan satu lagi... ada fotonya di gadget kita!
Begitulah hakikat ibadah. Perjumpaan di sini menciptakan sukacita dan sorak-sorai di hati kita, dan itu diungkapkan bukan di sini, tapi di luar sana. Itulah sebab pemazmur mengatakan: “bersorak-soraklah bagi Tuhan, hai segenap bumi!” Perhatikan ada kata “segenap bumi” di sana. Itu berarti, sorak-sorai yang kita hayati ketika berjumpa dengan Tuhan, dilihat dan dirasakan orang-orang di sekitar kita. Sehingga semua orang juga mau bersorak-sorai bersukacita memuji Tuhan yang telah menciptakan dan menggembalakan manusia. Lebih dari itu, sukacita kita juga harus dirasakan oleh bumi ini.
Marilah kita renungkan, bukankah bumi kita tengah sakit dan kehilangan sorak-sorai? Siapakah yang patut bertanggung jawab? Tentu jawabannya adalah kita, manusia. Sebab kita diciptakan untuk memelihara bumi ini.
Di sini kita menemukan dunia yang terbalik. Di gereja kita beribadah dengan sorai-sorai gegap gempita, tapi di luar gereja kita sama saja dengan orang lain. Di gereja kita tampak saleh, di rumah kita bikin air mata anggota keluarga kita meleleh! Di gereja kita mendoakan alam, di luar gereja alam kita rusak.
Apakah Tuhan baik? Jawabannya jangan lagi pakai kata-kata, tetapi tampak lewat perilaku kita. Ayo tunjukkan kalau Tuhan baik. Tuhan baik bagi Anda, bagi saya, dan bagi alam semesta. Amin.
Sumber Materi: Masa Paskah 2026: “Kebangkitan Kristus Memperbarui Ciptaan - Paskah Ekologis” Hak Cipta © 2025, LPP Sinode GKJ dan GKI SW Jateng